Home » , » UWAIS AL-QARNI.. Ketaatan seorang anak

UWAIS AL-QARNI.. Ketaatan seorang anak

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرحىم

UWAIS AL-QARNI.. Ketaatan seorang anak


Rasulullah pernah mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab 
“kalau kalian bertemu dengan Uwais Al-Qarni,
perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya. 
Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istigfarnya. 
Dia adalah penghuni langit bukan penghuni bumi.” 


Siapakah Uwais Al-Qarni hingga Rasulullah begitu mengutamakannya hingga meminta doanya?


Uwais Al-Qarni adalah seorang pemuda bermata biru, 
rambutnya merah, 
pundaknya lapang panjang, 
berpenampilan cukup tampan dengan kulitnya yang kemerah-merahan. 


Dilahirkan di sebuah desa terpencil bernama Qaran di dekat Nejed. 
Nama lengkapnya adalah Uwais bin Amir Al-Qarni. 
Sejak kecil Uwais hidup dalam keluarga yang taat beribadah..


Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim bersama ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. 
Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, 
Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. 
Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang keseharian bersama ibunya. 
Bila ada kelebihan, 
ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dirinya..


Rupanya, karena baktinya kepada orang tuanya 
dan kesabarannya merawat orang tuanya,
menjadikan ia penghuni langit bukan penghuni dunia seperti kata Rasulullah. 


Sosok yang miskin dan tak ada sanak saudara,
menjadikan namanya tak begitu di kenal orang
tapi dengan ahlaknya yang mulia dan berbakti pada orang tuanya 
menjadikan ia banyak di kenal dan di kenang..


Keinginan terbesar Uwais adalah bertemu dengan Rasulullah. 
Tapi apa daya keadaan ibunya yang sudah tua membutuhkan perawatan darinya 
hingga ia tidak tega untuk meninggalkan ibunya.
Ibunya yang mengetahui keinginan anaknya untuk bertemu pujaan hatinya yaitu Rasulullah akhirnya memberikan ijin.

“pergilah wahai anakku temuilah Rasulullah di rumahnya. 
Dan bila telah berjumpa segeralah engkau kembali.” 
Dengan rasa gembira Uwais berkemas untuk berangkat 
dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan di tinggalkannya 
serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.


Setibanya Uwais di kota Madinah, 
segera ia menuju rumah Rasulullah. 
Tapi sayang waktu itu Rasulullah tengah berada di medan perang. 
Untuk mengobati kekecewaannya, 
Uwais ingin menunggu Rasulullah, 
tapi sampai kapan? 
Sedangkan ia teringat pesan ibunya agar lekas pulang, 
yang kemudian mengalahkan keinginan hatinya untuk menunggu Rasulullah. 
Dan Uwais pun kembali pulang. 


Sepulang dari perang Rasulullah menanyakan kedatangan Uwais. 
Rasulullah berkata, “ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit)”. 
Hingga pantaslah jika Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk meminta doa darinya.


Yang dikatakan Rasulullah terbukti kebenarannya. 
Ketika Uwais Al-Qarni meninggal 
rupanya para malaikat turun ke bumi untuk ikut mengurusi jenazahnya. 


Diriwayatkan ketika akan di mandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya, 
begitupun ketika akan di kafani disana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafani, demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya sedemikian banyak orang yang tidak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, 
padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.



Ada sebuah pepatah mengatakan
“there are no perfect parents. 
But our parents will always love perfectly..” . 


uwais sadar banget, 
meski ibunya sudah renta dan lumpuh, 
hal itu tak menyurutkan kasih sayangnya pada Uwais. 
Ini menjadi cerminan buat kita. 
Keridhoan Allah terdapat pada keridhoan orang tua. 
Jadi berbaktilah pada orang tua kita. 
Agar Allah menggolongkan kita seperti halnya Uwais, 
penghuni langit bukan penghuni bumi......

loading...
Share this on your favourite network

0 comments:

Post a Comment

Email Newsletter

Write For Us

Sayidina Ali r.a:
 ”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
Imam Syafii:
"bahwa bodoh orang yang memburu kijang liar di hutan, mendapatkan tapi tidak mengikatnya. Begitulah ilmu bila tidak ditulis."
Ashabul Kholifah:
"Ikatlah Kijang liarmu (ilmu) dengan Keyboardmu."
(just kidding)
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS